Latest

Westland Wasp : Legenda Heli AKS TNI AL

Westland Wasp TNI AL kini menjadi monumen di Surabaya

Bila merujuk pada kuantitas kapal perang yang dimiliki, boleh disebut TNI AL merupakan angkatan laut terbesar yang ada di kawasan ASEAN. Tapi terbesar belum tentu jadi yang terkuat, perihal yang terkuat masih harus dikalkulasi ulang, terutama bila dilihat dari perspektif jenis dan teknologi alutsista yang dimiliki oleh AL Singapura dan AL Malaysia. (more…)

Indonesian Missile – Perisai Angkasa Nusantara

Dengan pudarnya dominasi rudal di Indonesia, tentu ada perhitungan sendiri, di bawah panji kestabilan ekonomi dan membina hubungan yang baik di kawasan, pada era Soeharto pengembangan rudal mulai berjalan, walau sangat lamban, bahkan secara de facto etalase rudal Indonesia sudah tertinggal dari Singapura dan Malaysia.

Tapi harus diakui, tak serta merta sistem rudal Indonesia tertinggal secara keseluruhan, di lini rudal anti kapal, terlihat pemerintah sangat serius untuk memperkuat beragam rudal anti kapal, sebagai bukti adalah Yakhont, yang kini menjadi lambang supremasi alutsista Indonesia.

Khusus pada era orba, pemerintah nampak kurang mempersiapkan militer seumpama menghadapi konflik terbuka antar negara tetangga, berkat sosok Soeharto yang sangat disegani sebagai pemimpin pemerintahan paling senior di ASEAN, beragam alutsista di per-modern, tapi sayangnya dengan kuantitas yang serba minim. Tapi fakta kini berbicara lain, musim telah berganti, era baru pun harus disikapi secara tepat tanpa harus berlebihan. Dengan segala intrik dan konflik di seputar perbatasan, potensi munculnya perang antara negara bertetangga bisa saja meletus di masa mendatang.

Tanpa bermaksud mengharap datangnya peperangan, tapi diyakini, seandainya terjadi duel antara militer Indonesia dan Malaysia, beberapa lakon dalam pertempuran akan memunculkan nama Sidewinder, Maverick, Exocet, atau bisa jadi Yakhont. Uniknya antar negara tetangga di ASEAN, termasuk Malaysia dan Singapura, mempunyai karakter dan jenis alutsista yang serupa. Sebut saja seperti rudal Maverick, Sidewinder, RBS-70, dan Rapier dimiliki oleh Indonesia, Malaysia dan Singapura.

Inilah yang menarik untuk dicermati, konflik di masa mendatang akan terkait dengan teknologi tinggi, dan bisa dipastikan rudal akan selalu kebagian peran strategis yang menentukkan. Dalam buku “Indonesian Missile, Perisai Angkasa Nusantara” untuk pertama kalinya dibahas tentang sepak terjang dan etalase rudal yang dahulu dan kini memperkuat TNI.

Informasi Buku
Judul  : Indonesian Missile, Perisai Angkasa Nusantara
Penulis  : Haryo Adjie Nogo Seno
Penerbit : Matapadi Pressindo
Hal : xii+158
Harga : Rp45.000
Note : Tersedia di Toko Buku Gramedia

 

 

Torpedo SAET-50 : Senjata Pamungkas Korps Hiu Kencana Era-60an

Bagi Anda pemerhati bidang kemiliteran, pastinya telah mengenal identitas Whiskey class, ya ini lah jenis kapal selam yang memperkuat arsenal kekuatan Korps Hiu Kencana TNI AL di dasawarsa tahun 60-an. Seperti diketahui, ada 12 kapal selam kelas Whiskey yang sempat dimiliki Indonesia, dan kehadirannya saat itu dimaksudkan sebagai salah satu elemen penggetar dalam operasi Trikora, merebut Irian Jaya dari tangan Belanda.

Seperti banyak ditulis dalam berbagai literatur, keberadaan kapal selam bagi sebuah negara merupakan komponen yang strategis. Beragam fungsi bisa diemban dari adanya kapal selam, mulai dari patroli, intai maritim, penyusupan, hingga perang bawah/atas permukaan laut. Untuk yang terakhir disebut, perang bawah/atas permukaan laut, tentunya bisa berjalan bila kapal selam ditunjang dengan persenjataan yang memadai. Bicara soal senjata kapal selam, jelas yang utama dan tak tergantikan adalah torpedo, setelah itu baru bisa disebut ranjau laut, rudal anti kapal, dan sebagainya.

Sosok torpedo SAET-50 di museum AL Rusia
Tampilan baling-baling pada SAET-50

Nah, guna menapaki sejarah kejayaan militer Indonesia di masa lalu, TNI AL kala itu juga sudah memiliki jenis torpedo yang terbilang canggih pada masanya. Jenis torpedo tersebut adalah SAET (Samonavodiashaiasia Akustisticheskaia Elektricheskaia Torpeda)-50, sebuah torpedo jenis homing akustik yang ditenagai dengan teknologi elektrik. Kecanggihan SAET-50 yakni saat diluncurkan dapat langsung mencari sasaran sendiri (fire and forget) berdasarkan suara baling-baling atau material magnetik yang dipancarkan oleh badan kapal target. Yang cukup menakutkan bagi armada kapal perang Belanda, hulu ledaknya mencapai berat 375 Kg, dan teknologi homing akustik pasif torpedo ini dapat mengendus sasaran mulai dari jarak 600-800 meter.

Selain negara-negara anggota Pakta Warsawa, Indonesia menjadi pengguna pertama, dan yang pasti di Asia baru Indonesia lah yang memiliki torpedo maut ini. Tentu ada udang dibalik batu atas kedatangan torpedo ini, Uni Soviet tentu berharap kinerja SAET-50 dapat dijajal dalam operasi tempur yang sesungguhnya. Operasi Trikora bisa menjadi kampanye keunggulan militer Uni Soviet melawan kubu Blok Barat yang diwakili oleh Belanda.

Jenis torpedo Whiskey Class di Museum Satria Mandala
Sosok torpedo di kompartemen Monkasel KRI Pasopati, Surabaya

Sayangnya, kesaktian SAET-50 tidak pernah dibuktikan untuk menghantam armada kapal Belanda. Karena beragam kepentingan, versi torpedo ini kemudian juga diadaptasi oleh Cina secara lisensi. Dan jadilah torpedo berdiameter 533mm ini dengan versi buatan Cina yang diberi kode Yu-3/Yu-4A dan Yu-4B. Ada beberapa pengembangan yang dilakukan oleh Cina, dimana versi torpedo ini dibuat bukan hanya dalam versi akustik pasif, tapi juga akustik aktif, yakni memancarkan gelombang untuk mencari pantulan dari logam di kapal target. Cina sendiri terus memproduksi torpedo yang berasal dari platform SAET-50 hingga 1987.

SAET-50 versi Cina (Yu-4)
Tabung peluncur torpedo di buritan KRI Pasopati

Tidak ada informasi, berapa unit torpedo SAET-50 yang sempat dimiliki TNI-AL. Secara umum SAET-50 produksi Uni Soviet terbagi dalam dua versi, yakni SAET-50 (digunakan mulai tahun 1950) dan SAET-50M (digunakan mulai tahun 1955). Tidak diketahui jenis mana yang dipunyai oleh TNI AL. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah spesifikasi torpedo SAET-50. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi Torpedo SAET-50
Diameter : 533 mm
Berat : 1.650 Kg
Panjang : 7,45 m
Berat Hulu Ledak : 375 Kg
Jangkauan : SAET-50 – 4 Km/SAET-50M – 6 Km
Kecepatan : SAET-50 – 23 knots/ SAET-50M – 29 knots
Sumber Tenaga : Lead Acic Battery

KRI Ratulangi: Induk Semang Kapal Selam TNI AL

KRI (RI) Ratulangi

Sebagian besar dari kita mungkin sudah mahfum dengan nama KRI Irian, sosok kapal penjelajah pertama dan terakhir yang pernah dimiliki TNI AL pada era orde lama. Tapi untuk segmen kapal permukaan, sebenarnya ada beberapa nama kapal perang TNI AL lainnya yang juga fenomenal di masa tersebut. Sebut saja salah satunya adalah KRI Ratulangi (RLI), kapal yang disebut kapal tender kapal selam ini punya peran penting pada masa operasi Trikora sampai operasi Seroja di tahun 70-an.

KRI Ratulangi adalah alutsista yang khas di era tersebut, pasalnya peran kapal ini begitu vital sebagai kapal induknya armada kapal selam TNI AL yang saat itu memiliki 12 kapal selam kelas Whiskey buatan Uni Soviet. KRI Ratulangi adalah jenis kapal perang atas air yang berfungsi sebagai pendukung dan pengendali operasi taktis kapal-kapal selam. Keberadaan jenis kapal ini diperlukan untuk menyuplai logistik, merawat, dan memperbaiki peralatan kapal, serta melakukan tindakan medis. Dan karena desain kapal selam kelas Whiskey yang kurang nyaman dan ergonomis untuk awaknya, maka KRI Ratulangi juga dimanfaatkan para awak kapal selam untuk beristirahat selama sedang tidak aktif.

Logistik yang dapat diberikan kepada kapal selam dari KRI Ratulangi adalah logistik cair seperti bahan bakar, pelumas, air suling untuk elektrolit baterai, dan air minum. Logistik padat berupa bahan makanan untuk awak kapal dan suku cadang kapal. Dan tak ketinggalan beban berupa logistik tempur berupa torpedo, ranjau dan amunisi lainnya. Terkait torpedo, yang dibawa kapal tender ini bukan sembarangan, yakni torpedo kendali bertenaga listrik tipe SAET-50.

Torpedo SAET-50 yang dimuat pada kapal tender kapal selam

Torpedo SAET-50 adalah senjata bawah laut paling mematikan milik Soviet saat itu, setelah diluncurkan torpedo ini dapat langsung mencari sasaran sendiri (fire and forget) berdasarkan suara baling-baling kapal atau magnetik badan kapal tersebut. Torpedo jenis ini bisa berada di tangan Indonesia dengan harapan kinerjanya dapat dijajal dalam operasi Trikora, sehingga merupakan poin penting bagi kampanye militer Uni Soviet.

KRI Ratulangi merupakan kapal tender kelas Don buatan Uni Soviet. Bobot kapal ini mencapai 6.800 ton dalam kondisi standar dan 9.000 ton pada kondisi muatan penuh. Don class mulai diproduksi pada periode tahun 1958 – 1961. Untuk keperluan Angkatan Laut Uni Soviet, kapal Tender jenis Don ini diprodukksi sebanyak 7 unit, dan 1 unit diproduksi untuk digunakan oleh TNI AL (ALRI).

Armada Whiskey class TNI AL, kemungkinan tengah merapat di kapal tender

Dalam operasinya, KRI Ratulangi dapat melayani 6 kapal selam sekaligus, selain berupa pasokan aneka logistik, kapal tender ini juga dapat melakukan pengisian tenaga listrik untuk baterai kapal selam yang sedang bersandar, sebab KRI Ratulangi memiliki generator untuk keperluan tersebut. Sebagai kapal dengan bobot yang cukup besar, KRI Ratulangi juga memiliki beragam fasilitas kesehetan umum dan rawat gigi untuk para awak kapal selam.

Salah satu yang unik dari kapal ini adalah geladaknya yang cukup luas dan dilapisi papan dari kayu, sehingga memberi kenyamanan, baik bagi pejalan di atas geladak maupun kesejukan di ruang bawah geladak. Seperti diketahui, kayu adalah isolator panas yang baik sekaligus peredam getaran dan tidak licin.

Mesin
KRI Ratulangi ditenagai mesin diesel listrik, denga diesel listrik olah gerak kapal ini menjadi lebih lincah dan efektif. Diesel utama memutar generator, dan generator menghasilkan tenaga listrik. Tenaga listrik memutar elektro motor, dan selanjutnya elektro motor memutar poros baling-baling yang ujungnya terpasang daun baling-baling. KRI Ratulangi memiliki dua poros baling-baling yang memutar pada sisi kanan dan kiri.

Desain
Dibanding jenis kapal perang pada umumnya, desain KRI Ratulangi terbilang lebih mirip kapal penumpang, sebab lambung kapal dibuat tinggi dengan banyak jendela kedap. Adanya fasilitas bengkel dan gudang menjadikan kapal ini layaknya depot. Sebagai induk semangnya kapal selam, pada ujung haluan terdapat sebuah katrol berukuran besar dengan daya angkat sampai 300 ton. Katrol ini diperlukan untuk perbaikan baling-baling dan sistem poros kapal selam dengan jalan menggulingkan kapal selam kedepan, sehingga baling-baling mencuat ke permukaan.

Tampilan bagian buritan Don class submarine tander milik AL Uni Soviet

Persenjataan
Kapal perang dengan awak 300 personel ini dilengkapi dengan aneka persenjataan yang membuatnya setara dengan destroyer. Dalam catatan sejarah, KRI Ratulangi memiliki 4 pucuk meriam kaliber 100mm dalam kubah meriam tunggal, dan 8 pucuk meriam kaliber 57mm berada dalam 4 menara meriam berlaras kembar. Dan untuk melibas kapal selam lawan, kapal tender ini juga dapat menyebar ranjau laut.

Ikhwal Kedatangan KRI Ratulangi
Kedatangan KRI Ratulangi merupakan bagian dari paket pembelian 12 kapal selam dalam misi Nasution I, dalam paket pembelian disebutkan Indonesia akan menerima 2 kapal tender kapal selam. Ini artinya KRI Ratulangi punya ‘saudara’ dalam penugasannya, yakni KRI Thamrin (THR). Baik KRI Ratulangi dan KRI Thamrin tiba di Indonesia ketika konflik Irian Barat hampir rampung, sehingga belum sempat unjuk gigi kepada Belanda.

Uni Soviet masih menggunakan Don Class hingga tahun 1998

Kedua kapal tender ini nyatanya baru berperan penuh saat Indonesia terlibat konfrontasi dengan Malaysia. Bahkan KRI Ratulangi dikabarkan masih beroperasi dan aktif hingga tahun 1980-an, meskipun fungsinya telah berubah dari kapal tender menjadi kapal tempur/kapal markas. Ini tak lain berkat merian-meriam kaliber 100mm di geladaknya.

Saat memasuki order baru, Indonesia terkena embargo militer dari Uni Soviet, kiprah KRI Ratulangi terbukti tetap berkibar. Dengan pola kanibalisasi suku cadang dari jenis kapal perang lain, Ratulangi masih dapat mengemban beberapa misi tempur, terutama pada operasi Seroja di tahun 70-an. Di Uni Soviet sendiri, kapal tender kelas Don ini masih digunakan sampai tahun 1998. Artinya bila suku cadang tersedia, sebenarnya kapal jenis ini masih diperlukan, apalagi bila Indonesia berniat punya kapal selam dalam jumlah lebih dari 2 unit seperti saat ini.

KRI Thamrin Yang Misterius
Bila KRI Ratulangi punya catatan sejarah yang cukup lengkap, maka lain hal dengan KRI Thamrin. Jejak KRI Thamrin agak sulit ditelusuri, antara KRI Ratulangi dan Thamrin meski sama-sama kapal tender, tapi berangkat dari kelas yang berbeda. KRI Thamrin berasal dari kelas Atrek dan berpenggerak mesin turbin uap. Tidak jelas bagaimana riwayat kapal ini, dan kisah-kisah yang menyertainya.

Sosok KRI (RI) Thamrin, kapal tender TNI AL yang misterius

Terkait nomer lambung kapal juga ada yang unik dari keberadaan kapal tender milik TNI AL, mungkin karena dianggap bagian dari Satsel (satuan kapal selam), diketahui KRI Ratulangi memiliki nomer lambung 400, tapi dalam beberapa literatur juga terlihat nomer lambung kapal ini adalah 4101. Bahkan ada foto yang tak terbantahkan, bila nomer lambung KRI Ratulangi adalah 552. Mana yang benar, mungkin pihak TNI AL bisa memberikan informasi lebih lanjut.

Satu hal lagi, tidak jelas pula bagaimana nasib akhir KRI Ratulangi, apakah kapal tender tersebut berakhir sebagai besi tua, atau dijadikan sasaran latihan tembak. Mungkin ada dari Anda yang punya kisah lanjutannnya? Monggo kita saling berbagi.. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi KRI Ratulangi
Pabrik : Nikolayev shipyard
Dimensi : 140 x 17,7 x 6,4 m
Berat Standar : 6.800 ton
Berat Penuh : 9.000 ton
Awak : 300 – 450 orang
Jarak Jelajah : 21.000 Km pada kecepatan 10 knot
Kecepatan max : 17 knot
Fasilitas Sensor : Radar Hawk Screech, Slim Net, 2 x Watch Dog ECM system dan Vee Cone Communication System.
Persenjataan : 4 – 100mm guns (4×1), 4 – 57mm guns
Lama berlayar tanpa bekal ulang : 40 hari
Kapasitas Torpedo : 42 torpedoes 533 mm

KS Type 206 : Nyaris Jadi Arsenal Korps Hiu Kencana TNI AL

Suatu hari di tahun 1997, pada acara “Dunia Dalam Berita” di TVRI, diwartakan bahwa TNI AL akan kedatangan armada kapal selam (KS) jenis baru, melengkapi 2 unit yang sudah ada sejak awal tahun 80-an. Tak tanggung-tanggung, disebutkan TNI AL langsung menambah 5 unit kapal selam. Kala itu, berita pengadaan kapal selam cukup mengagetkan, walau beritanya tak heboh, tapi pengadaan langsung 5 unit adalah ‘prestasi’ di saat itu, pasalnya selain pemerintah harus siapkan budget besar, juga TNI AL harus menyiapkan awak dalam jumlah yang ideal. (more…)

Indomiliter 2011 Annual Report

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

London Olympic Stadium holds 80,000 people. This blog was viewed about 330,000 times in 2011. If it were competing at London Olympic Stadium, it would take about 4 sold-out events for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Konsep Pengadaan Alat Utama Sistem Senjata Berbasis ‘Gamangisme’

MBT Leopard

Baru-baru ini tengah ramai berita seputar rencana pembelian MBT (main battle tank) jenis Leopard 2A6 buatan Jerman. Sontak saja kabar ini menjadi isu hangat diantara pemerhati militer, masyarakat luas dan tentunya juga para anggota dewan yang katanya terhormat.

Apa yang menyebabkan berita MBT ini jadi heboh? Dari sisi teknis inilah upaya serius dari pihak Kementrian Pertahanan dan Mabes TNI untuk secara eksplisit menyatakan ketertarikannya dalam membeli MBT. Maklum sedari dulu kodrat kendaraan lapis baja milik TNI hanya berkutat pada jenis tank ringan (light tank). Ditambah pengadaan MBT ini turut mengusung skema pembelian government to government, dengan meniadakan peran broker, artinya akan mengelimir terjadinya praktik korupsi.

Lepas dari polemik soal peran broker dan politik, memang sudah jadi tradisi di Republik ini untuk meributkan hal-hal yang membosankan. Contoh, polemik soal tonase MBT Leopard yang mencapai 62,5 ton, disinyalir oleh beberapa pengamat dan analis tidak cocok untuk kontur tanah di Indonesia. Lain lagi dari kubu pro MBT, menyatakan bahwa Leopard cocok dan tidak ada masalah dengan kontur tanah dan jembatan di Indonesia, mereka memperlihatkan contoh Malaysia yang sudah lebih dulu punya MBT, bahkan Singapura sejak 8 tahun lalu sudah punya 196 unit Leopard.

Meski MBT Leopard aslinya buatan Jerman, tapi Leopard yang bakal dibeli Indonesia adalah bekas pakai AD Belanda. Konon disebut-sebut, armada Leopard Belanda dalam kondisi sangat baik, tidak pernah digunakan untuk perang, dan tidak pernah dilibatkan dalam latihan besar. Belanda sendiri menjual Leopard dalam rangka perampingan kekuatan militernya, sebagai imbas krisis keuangan yang mendera Eropa. Sejatinya yang disodorkan Belanda tak hanya Leopard, tapi juga ada helikopter AH-64 Apache dan jet tempur F-16 Block 52.

F-16 Block 52 dan AH-64 Apache milik AB Singapura

Sebagai orang yang awam dalam dunia kemiliteran, saya pribadi senang mendengar bakal datangnya Leopard, F-16 Block 52, dan Apache. Setidaknya TNI bisa punya alutsista (alat utama sistem senjata) yang setara dengan Singapura dan Malaysia. Tapi disisi lain, hati ini rasanya miris juga, lantaran terlihat strategi pengadaan alutsista TNI terlihat tak memiliki platform yang jelas, sekilas seperti didorong pembelian karena emosi, ya emosi karena ada “Big Sale” dan emosi karena sekedar tak ingin kalah dari negara tetangga.

Emosi diatas (jika benar) tentu juga tidak salah, tapi yang jadi aneh bila pemerintah jadi gamang menentukan prioritas. Adanya MBT Leopard dan Apache jelas sangat penting untuk penguasaan teknologi militer Indonesia, tapi menurut saya pribadi, itu bukan prioritas utama. Seharusnya prioritas utama TNI lebih ditekankan pada pemenuhan kekuatan armada pesawat pengintai dan helikopter AKS (anti kapal selam)/Surveillance untuk ketajaman indra kapal-kapal perang TNI AL. Alasan saya tidak terlalu rumit, justru sebenarnya daya getar (deteren) Indonesia ada di Laut, dan sebagai negara maritim terbesar, ironis Indonesia bahkan tak punya heli anti AKS.

Pada era 60-an sistem AKS kita cukup ideal, walau sesusahnya terus redup, kemudian masih ada heli WASP dari Inggris, tapi setelah itu di grounded, dan tak ada lagi gantinya. Sempat di tahun 2005, pemerintah meng-order 3 unit heli BO-105 versi OTHT (over the horizon target) radar dari PT. DI, tapi entah karena alasan apa, order tersebut batal. Bayangkan negara martim terbesar tidak punya heli AKS atau heli intai. Pesawat intai, meski ada satuan intai martim dari Boeing 737 Surveillance Skadron 5 Makassar, jumlahnya yang 3 unit amat minim dan teknologinya sudah mulai usang.

Heli BO-105 OTHT, sempat dipesan namun gagal direalisasi oleh TNI

Kalau mau di compare, AL Malaysia sejak lama sudah punya Sea Lynx dan AL Singapura memiliki Sikorsky SH-60B Seahawk. Kedua heli tersebut pun sudah dibekali Torpedo. Belum lagi bekal E-2C Hawkeye yang mampu ‘menyapu’ coverage yang sangat luas.

Seolah terlupakan, padahal pemenuhan heli/pesawat pengintai sangat vital, karena bisa menangkal terjadinya tindak pelanggaran teritori di Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Indonesia, belum lagi aksi kejahatan di laut lebih bisa direspon dengan cepat. Artinya devisa dan hasil bumi Indonesia lebih bisa diamankan. Ujung-ujungnya semua itu akan membawa kesejahteraan bagi ekonomi perairan Nusantara.

Saya pribadi menganggap hal diatas lebih penting ketimbang meributkan pengadaan MBT. Seandainya Leopard tahun depan datang pun, daya deteren TNI tidak akan meningkat signifikan, secara Singapura sudah memiliki tank dengan jenis yang sama, bahkan dalam jumlah lebih besar, begitu pun dari sisi Malaysia. Kalau mau jujur, sebenarnya kita amat butuh heli/pesawat dengan kemampuan OTHT. TNI AL sudah punya rudal Yakhont dan C-802, tapi kehandalannya tak maksimal, bahkan keterbatasan elemen OTHT, untuk pointing target rudal Yakhont ternyata dilakukan lewat kapal selam.

‘Keanehan’ strategi prioritas alutsista TNI juga terlihat dari elemen rudal. Sejak 3 dekade nasib rudal udara ke udara milik TNI AU tak pernah disegerkan, hanya mengandalkan versi ‘tua’ dari Sidewinder, berbanding terbalik dengan Malaysia dan Singapura yang punya versi mutakhir AIM-9X Sidewinder. Belum lagi, sudah sejak lama armada Sukhoi didatangkan tanpa rudal, baru setelah 8 tahun terdengar dalam tingkat desas-desus, Sukhoi TNI AU akan dilengkapi rudal udara ke udara jarak menengah. Semoga ini benar.

Armada sukhoi TNI AU, cukup lama 'merana' tanpa dibekali rudal

Lalu miris lagi di armada heli tempur Mi-24 milik Penerbad, sayang disayang heli sangar ini juga tak dibelai rudal pelibas tank. Tanpa ada kejelasan konsep pengembangannya, pemerintah keburu kesemsem dengan promo “Big Sale” Apache. Ya semoga saja Apache dibeli berikut rudal anti tank-nya. Dan jangan lupa, seyognya pemerintah juga jangan lupa dengan pengalaman buruk embargo militer dari AS. Perlu diketahui meski yang menjual Belanda, tapi toh nyatanya AS dan NATO mampu meng-cut aliran suku cadang dan persenjataan ke Indonesia, terutama bila aksi militer Indonesia bertentangan dengan kepentingan negara-negara Barat.

Memang dalam pemenuhan MEF (minimum essential force), di tahun 2012 anggaran pertahanan RI mengalami kenaikan terbesar, yakni mencapai Rp61,5 triliun, melonjak 29,5% dari tahun sebelumnya. Sebagai informasi, anggaran pengadaan 100 Leopard dari Belanda yakni sebesar Rp2,5 triliun. Memang masih ada sisa anggaran yang cukup besar, tapi seyogyanya pemerintah tetap memikirkan pengembangan alutsista di dalam negeri.

Dalam beberapa hal, ada baiknya strategi alutsista RI mengacu ke Iran dan India, tetap fokus dan tidak gamang. Mungkin saja saya keliru, tapi alotnya penentuan jenis kapal selam terbaru TNI AL, selain karena masalah anggaran, juga karena adanya ‘syarat’ baru dalam spesifikasi yang diajukan. Isunya karena melihat kapal selam Singapura dan Malaysia yang bisa menembakkan rudal anti kapal dari bawah permukaan laut, maka syarat kemampuan tersebut juga ‘harus’ ada untuk kapal selam TNI AL. Dan, untuk hal tersebut pilihan pastinya juga tak terlalu banyak dan budget harus ditingkatkan.

Akhir kata, selamat datang Leopard dan Apache, semoga bisa menjadi alutsista yang membawa berkah dan kejayaan bagi NKRI. Kita tahu produk-produk tersebut memang battle proven, dan mudah-mudahan bisa optimal digunakan oleh militer Indonesia. (Haryo Adjie Nogo Seno)