Latest

Harpoon : Rudal Canggih Yang “Loyo” Akibat Embargo Militer

Setelah sempat berjaya di era 60-an, kembali di awal dekade 90-an TNI AL menjadi kekuatan laut di Asia Tenggara yang tampil dengan kemampuan serta daya getar tingggi. Hal ini bukan lantaran kala itu Indonesia menjadi satu-satunya pengguna armada kapal selam di kawasan ASEAN, lebih dari itu, TNI AL pada dua dekade lalu memiliki alutsista rudal anti kapal (SSM/surface to surface missile) dari jenis Harpoon buatan McDonnell Douglas (saat ini telah diakuisisi oleh Boeing Defence), Amerika Serikat.

Sebagai rudal anti kapal, Harpoon dapat diluncurkan dari beragam platform. Walau populer diluncurkan dari kapal perang (frigat atau destroyer). Dalam gelar operasinya, Harpoon mampu diluncurkan dari pesawat tempur, truk, dan hebatnya bisa diluncurkandari kapal selam. Bila disimak, fungsi dan peran operasinya bisa disejajarkan dengan keluarga rudal Exocet dan Yakhont. Berkat hadirnya Harpoon, jadilah dekade 90-an TNI-AL memiliki dua rudal SSM modern, yakni Exocet MM-38 dan Harpoon.

Ditilik dari spesifikasinya, Harpoon adalah rudal over the horizon, artinya dapat menghantam sasaran di luar batas cakrawala. Hal tersebut bisa dimungkinkan karena jangkauan Harpoon yang bisa mencapai 100 Km lebih. Dengan ragam multi platform peluncuran, Harpoon dibagi dalam beberapa tipe, untuk Harpoon yang diluncurkan dari kapal dan truk yakni RGM-84A, sedang yang diuncurkan dari pesawat yakni AGM-84, dan yang diluncurkan dari kapal selam disebut UGM-84A.

F-16 Fighting Falcon mampu menggotong AGM-84 Harpoon

Indonesia termasuk negara yang beruntung ikut mengoperasikan rudal ini, di kawasan ASEAN diketahui Singapura juga mengadopsi Harpoon. Bila Indonesia “hanya” memiliki jenis RGM-84, maka Singapura sudah mengadopsi jenis RGM-84 Harpoon untuk kelas FPB (fast patrol boat) dan jenis AGM-84 yang ditempatkan pada pesawat patroli maritim MPA (maritim patrol aircraft) Fokker 50.

Sejak diluncurkan pertama kali pada tahun 1977, saat ini populasi Harpoon diperkirakan telah mencapai 7000 unit lebih. Karena sudah hadir cukup lama, Harpoon hingga kini sudah dibuat dalam beberapa versi upgrade untuk perbaikan performa. Menurut situ Wikipedia, TNI AL disebutkan memiliki jenis rudal Harpoon versi Block 1D. Harpoon Block 1D mempunyai keunggulan pada ukuran fuel tank yang lebih besar. Block 1D mulai diproduksi pada akhir tahun 80-an, dan produksinya tak dilanjutkan pada tahun 1992 lantaran AS lebih fokus pada hangatnya isu konflik dengan Pakta Warsawa. Harpoon Block 1D dirancang untuk jenis RGM/AGM-84, jarak tembak secara teorinya bisa mencapai 124 Km, jarak tembak tergantung dari jenis platform peluncuran.

Anatomi rudal Harpoon

Kedatangan Harpoon di Indonesia menjadi satu paket dengan hadirnya frigat kelas Van Speijk dari Belanda. Setiap frigat Van Speijk dapat membawa 8 tabung peluncur. TNI AL sendiri memiliki enam jenis frigat Van Speijk. Tak ada informasi yang jelas mengenai berapa unit Harpoon yang dibeli TNI AL. Dalam hitung-hitungan standar, setidaknya (harusnya) TNI AL minimal punya 48 unit Harpoon. Ini diasumsikan bila satu frigat Van Speijk benar-benar dipersiapkan dengan 8 Harpoon.

Harpoon yang dimiliki TNI AL dikendalikan sistem monitor Sea skimming lewat radar altimeter/active radar terminal homing. Ditinjau dari segi kecepatan, Harpoon digolongkan sebagai rudal sub sonic, kecepatan luncur Harpoon yakni 867 Km per jam atau 240 meter per detik. Bila ditilik dari elemen kecepatan, Harpoon dan Exocet MM-38 sama-sama masuk kategori rudal sub sonic. TNI AL baru merasakan era rudal SSM super sonic semenjak kehadiran rudal Yakhont dari Rusia.

KRI Karel Satsuit Tubun (356), salah satu frigat TNI AL yang mampu meluncurkan Harpoon

Jika dihitung dari segi usia, jelas Harpoon Block 1D kini sudah masuk usia uzur, dan bahkan mungkin sudah tak layak operasi. TNI AL pun sebenarnya sudah berusaha memperbaharui performa Harpoon, baik dari kelengkapan suku cadang hingga pengadaan jenis terbaru. Sedikit kilas balik, akibat insiden penembakan di Timor Timur pada tahun 1991, militer Indonesia terkena embargo senjata dari Amerika Serikat, hal ini berujung paa macetnya pasokan komponen dan alat pendukung Harpoon, akibatnya Harpoon TNI AL tak bisa dioperasikan.

RGM-84 Harpoon saat meluncur dari USS Leahy

Lepas dari soal embargo, hadirnya Harpoon di Indonesia sedikit banyak juga membuat Australia resah dan merasa terancam. Australia sempat menyiratkan ketidaksukaannya, apalagi disaat yang sama TNI AU juga kedatangan penempur termodern saat itu, F-16 Fighting Falcon. Kabarnya Australia pernah melayangkan protes mengenai hal ini ke pemerintah AS yang merestui penjualan senjata ini. Dan entah kebetulan atau karena rekayasa, pada akhirnya protes Australia “terkabul”, F-16 dan Harpoon Indonesia berhasil dibuat loyo. Sebagai informasi, Harpoon juga dioperasikan oleh Angkatan Laut dan Angkatan Udara Australia.

Seiring bergulirnya era Reformasi di tahun 2005, embargo militer AS kini telah dicabut. Dan TNI pun tak ‘kapok’ pada peralatan tempur dari AS. Dikutip dari Kapablagi.com (5/12/2005), KSAL Laksamana Slamet Soebijanto menyatakan, pasca pemcabutan embargo militer oleh AS, TNI AL akan membeli rudal Harpoon. “Rudal Harpoon itu untuk kelengkapan kapal perang. Mengenai kapan waktu dan kebutuhannya, kami akan bicarakan lebih lanjut,” ujar Slamet.
Sementara itu Asisten Perencanaan dan Anggaran (Asrena) Kasal Mayjen TNI (Mar) Yussuf Solichien mengemukakan, rudal Harpoon itu nantinya akan melengkapi persenjataan dari kapal jenis fregat. “Kekuatannya hampir sama dengan rudal Exocet MM 38 yang jarak jangkaunya sekitar 80 hingga 100 kilometer. Kita memiliki peralatan untuk rudal Harpoon itu, tapi sudah tidak dipakai sejak lima tahun lalu,” katanya. Ia menjelaskan, sebelum membeli rudal harpoon, TNI AL akan membeli rudal Yakhount dari Rusia untuk dua kapal fregat yang memiliki daya jangkau lebih jauh, yakni sekitar 300 Kilometer. Rudal dengan harga sekitar empat juta dolar AS itu akan ditempatkan di satu kapal frigat dan direalisasikan 2006.

AGM-84 saat dipasang pada sayap F-18 Hornet US Navy

Dewasa ini Harpoon terus digunakan oleh AS dan sekutunya, Harpoon dimodifikasi untuk meningkatkan performa daya gempurnya, seperti versi block 1J/block1G/blockII dan yang termutakhir block III. Pada Harpoon block III, rudal ini mampu diluncurkan dengan pola VLS (vertical launching system), artinya rudal bisa ditembakkan dari posisi meluncur ke atas untuk selanjutnya mencari target sasaran sesuai koordinat yang sudah ditentukan. Pola VLS mirip yang diterapkan pada rudal jelajah Tomahawk dan rudal anti kapal Yakhont.

UGM-84 Harpoon saat lepas ke permukaan, setelah diluncurkan dari kapal selam

TNI AL Jajal Harpoon

RGM-84 Harpoon TNI AL, saat uji coba penembakkan

Pada tahun 1989 (sebelum Indonesia terkena embago senjata dari AS), TNI melaksanakan program Latihan Gabungan Laut (Latgabla) II yang berlangsung dari tanggal 23 Oktober sampai dengan 28 Oktober 1989. Dalam latihan tersebut TNI AL melakukan uji coba penembakkan Harpoon dari KRI Yos Sudarso (352). Sebagai sasaran rudal Harpoon adalah eks KRI Hiu, yang cukup menarik dalam uji coba ini sang rudal saat meluncur ke sasaran turur diikuti oleh pesawat tempur F-5 E/F Tiger TNI AU dari skadron 14. Dalam uji coba, antara Harpoon dan F-5 sempat hanya berjarak 10 meter. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi Harpoon
Berat dengan booster : 691 Kg
Panjang : 4,6 meter (versi surface to surface) dan 3,8 meter (versi air to surface)
Diameter : 0,43 meter
Lebar Sayap : 0,91 meter
Berat Hulu Ledak : 221 Kg
Penggerak : Teledyne Turbojet/solid propellant booster
Kecepatan : 864 Km per jam
Pemandu : Sea skimming radar altimeter/active radar terminal homing

QW-3: Rudal Panggul Andalan Paskhas TNI AU

Setelah cukup lama tak mengoperasikan rudal, akhirnya saat ini Korps Pasukan Khas (Paskhas) TNI AU kembali dipercaya mengoperasikan rudal anti serangan udara alias SAM (surface to air missile). Tapi beda dari tahun 60-an, kala itu TNI AU punya arsenal monster SAM SA-2 , yakni rudal berjangkauan jarak sedang yang punya kecepatan 3,5 Mach dan jadi momok menakutkan bagi pesawat tempur NATO. (more…)

Sea Cat : Rudal Hanud TNI AL Era 80an

Sea Cat meluncur dari sebuah Frigat Royal Navy

Pada era tahun 80an, saat Arhanud TNI AD mengandalkan rudal Rapier sebagai ujung tombak alutsista pertahanan udara, maka di matra lain, yakni TNI AL juga memiliki rudal anti serangan udara yang canggih pada masanya. Rudal kategori SAM (surface to air missile) yang dimaksud adalah Sea Cat buatan Short Brothers, Inggris. Sebagai platform rudal anti serangan udara, sistem peluncur Sea Cat sudah ‘ditanam’ pada frigat TNI AL.

Dalam catatan, setidaknya ada 9 frigat TNI AL yang mengusung Sea Cat. Tiga frigat pertama adalah dari kelas Tribal, yakni KRI Martha Kristina Tiyahahu (331), KRI Hassanudin (333) dan KRI Wilhelmus Zakarias Yohannes (332). Ketiga frigat Tribal buatan Inggris ini dibeli bekas pakai dari Royal Navy pada periode tahun 1984-1985. Sedangkan enam frigat kedua adalah dari kelas Van Speijk buatan Belanda. Serupa dengan frigat Tribal, Van Speijk juga dibeli bekas dari Royal Netherlands Navy pada tahun 1989. Keenam frigat Van Speijk tersebut adalah KRI Ahmad Yani (351), KRI Slamet Riyadi (352), KRI Yos Sudarso (353), KRI Oswald Siahaan (354), KRI Halim Perdanakusumah (355) dan KRI Karel Satsuittubun (356).

KRI Ahmad Yani, salah satu frigat TNI AL pengusung Sea Cat
Sea Cat tengah ditembakkan dari KRI Yos Sudarso

Pada setiap frigat terdapat dua peluncur Sea Cat, dimana masing-masing peluncur dapat memuat empat rudal siap tembak. Dari spesifikasinya, Sea Cat dapat digolongkan rudal anti pesawat jarak pendek, jangkauan tembaknya maksimum 5 km. Tak seperti halnya rudal Rapier yang punya kecepatan tembak supersonic, Sea Cat hanya dirancang meluncur dengan kecepatan subsonic (0,8 Mach). Rudal berbobot 68 kg ini dirancang bermanuver dengan 4 sirip, sedangkan untuk urusan tenaganya dipercayakan pada two stage solid fuel rocket motor.

Sebagai sebuah peluru kendali, Sea Cat dalam operasionalnya dikendalikan lewat akses radio. Pada setiap peluncur terdapat seorang operator pengendali yang mengedalikan laju rudal secara remote dengan teknologi Command Line-Of-Sight (CLOS). Seperti terlihat di frigat Van Speijk TNI AL, ruang kendali operator Sea Cat terdapat tepat dibelakang peluncur. Untuk mengantisipasi cuaca buruk, pada kabin awak rudal dilengkapi wiper untuk membersihkan kaca dari air hujan.

Rangkaian platform Sea Cat, tampak peluncur dan konsol kendali CLOS yang diawaki seorang operator
Tampilan utuh Sea Cat, rudal subsonic ini menggunakan empat sirip

Pengalaman Tempur
Walau tak sebeken Rapier, Sea Cat nyatanya juga sudah teerlibat dalam beberapa kali dilibatkan dalam pertempuran. Yang mencolok adalah kiprahnya dalam perang Malvinas di tahun 1982. Karena hanya mengandalkan kecepatan subsonic, prestasi Sea Cat dalam perang Malvinas dinilia tak begitu baik. Selama berperang melawan AU Argentina, Sea Cat dikabarkan hanya mampu menembak jatuh sebuah A-4 C Skyhawk.

Peluncur Sea Cat siap tembak dengan 4 rudal

Peluncur dalam kondisi kosong, pola pemasangan rudal ke peluncur dilakukan secara manual

Pengalaman tempur Sea Cat lainnya yakni dalam India dalam berperang melawan Pakistan (1971) dan konflik perbatasan di Afrika Selatan. Dalam dua konflik terakhir ini, Sea Cat dimodifikasi menjadi Tigercat, yakni paltform rudal ini diusung untuk penggunaan di darat. Jika pada kapal perang satu pelunncur memuat empat rudal, untuk Tigercat satu peluncur hanya memuat tiga rudal. Sistem gelar Tigercat mengusung towed dari jip Land Rover. Negara penggua Tigercat yakni Argentina, India, Iran, Yordania dan Afrika Selatan. Oleh karena prestasi yang minus dalam pertempuran, beberapa negara kemudian mengganti Tigercat dengan Rapier.

Rudal Tigercat

“Kucing Laut” TNI AL
Sejak tahun 2000 lalu, populasi Sea Cat TNI AL berkurang, hal ini seiring dipensiunkannya frigat dari kelas Tribal. Frigat Tribal terbilang kapal perang tua, dirancang pada tahun 1950-an dan dioperasikan Royal Navy pada era 60 dan 70an, dan secara terbatas di awal tahun 80-an. Hal ini menandakan operasional dan performa Tribal sudah menurun drastis, apabila terus dioperasikan tentu biaya operasional yang ditanggung TNI AL akan kian besar.

KRI Hassanudin (333), salah satu frigat Tribal TNI AL yang juga mengusung Sea Cat

Maka setelah Tribal lengser, sandaran pengabdian Sea Cat hanya pada enam frigat kelas Van Speijk. Berbeda dengan frigat Tribal, kelas Van Speijk masih digunakan terus hingga saat ini lewat program repowering. Van Speijk yang umurnya sedikit lebih muda dari Tribal juga terbilang frigat canggih, sebab mengusung sudah kanon Oto Melara dan rudal SSM (surface to surface) Harpoon. Selama dioperasikan TNI AL, Sea Cat belum satu pun digunakan untuk menembak pesawat lawan. Terakhir kali Sea Cat tipe MK MOD 1 ditembakkan TNI AL dalam latihan penembakan strategis bersandikan “Operasi Halilintar” pada 8 hingga 9 Juni 2007.

Posisi penempatan peluncur Sea Cat pada frigat Tribal

Sea Cat on action

Seiring usia tua Sea Cat (mulai dioperasikan tahun 1962) dan teknologinya yang kian ketinggalan jaman, saat ini TNI AL mengganti Sea Cat di frigat Van Speijk dengan rudal Mistral dengan peluncur Simbad buatan MBDA, Prancis. Dari spesifikasi jelas Mistral lebih unggul degan kecepatan supersonic, lebih dari itu pengoperasian Sea Cat dan Mistral juga berbeda, Sea Cat mengusung sistem kendali penembakan lewat radio, sebalinya Mistral Simbad berupa rudal manpad dengan penuntun laser. Adopsi Mistral Simbad oleh TNI AL juga untuk melengkapi sista SAM di frigat kelas Parchim. Di lingkungan Royal Navy, Sea Cat digantikan rudal yang jauh lebih handal dalam kecepatan dan jangkauan, seperti Sea Wolf dan Sea Dart.

Meski dikabarkan telah pensiun, faktanya pada Rabu, 20 April 2011, rudal Sea Cat kembali di ujicoba oleh TNI AL. Sea Cat dilepaskan dari frigat KRI Karel Satsuittubun (356) di perairan Samudera Hindia. Uji rudal Sea Cat juga bersamaan dengan ujicoba rudal Yakhont, Exocet MM-40, Mistral, torpedo SUT dan roket anti kapal selam RBU-6000. Perlu dicatat, dalam ujicoba ini, Sea Cat ditembakkan sebagai sasaran atau target untuk rudal Mistral. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi Sea Cat
Manufaktur : Short Brothers
Berat : 68 Kg
Panjang : 1,48 meter
Diameter : 0,22 meter
Berat Hulu Ledak : 18 Kg
Hulu Ledak : Detonation mechanism proximity
Mesin : Roket berbahan bakar padat
Kecepatan : 0,8 Mach
Lebar sirip : 0,70 meter
Jangkauan : 500 – 5.000 meter
Sistem kendali : CLOS dan radio link

K-13 : Rudal Pamungkas MiG-21 AURI

MiG-21 AURI dengan AA-2 Atoll

Jauh-jauh hari sebelum TNI AU mengandalkan AIM-9 P4 Sidewinder sebagai rudal pemburu andalan di F-16 Fighting Falcon, pada dekade tahun 60-an AURI (TNI AU-kini) sebenarnya juga sudah memiliki rudal udara ke udara (air to air missile) jarak dekat yang cukup canggih pada masanya. Rudal ini tak lain adalah K-13 buatan Vympel dari Uni Soviet. Pada awal kehadiran MiG-21 di Tanah Air, K-13 menjadi ikon senjata utama yang tak terpisahkan dari MiG-21 Fishbed.

K-13, dalam koden NATO disebut AA-2 Atoll, tak lain dalah rudal jarak dekat dengan jangkauan maksimum 8 Km. Yang paling menarik, desain dan konsep rudal ini memang menyadur Sidewinder, rudal legendaris milik AS. Menurut kisah yang beredar luas, pada 28 September 1958, sebuah AIM-9B yang ditembakkan dari sebuah F-86 Sabre Taiwan dengan target sebuah MiG-17 Republik Rakyat Cina tetapi tidak. Rudal tersebut hanya menancap di ekor pesawat MiG dan dibawa kembali ke pangkalan dan menjadi contoh pengembangan rudal Uni Soviet.

AA-2 Atoll (K-13) tampak dari sisi sayap samping
AA-2 Atoll (K-13) di Museum Dirgantara - Jogjakarta

K-13, atau dikenal dengan kode R-3S mulai dikembangkan pada tahun 1958 dan masuk dinas AU Uni Soviet pada tahun 1960. R-3S pertama kali diketahui negara Barat pada 196, lalu diberi kode AA-2A Atoll. Kemudian disusul oleh R-3 jenis pelacak radar semi-aktif (SARH) yang sekelas dengan AIM-9C Sidewinder yang digunakan F-8 Crusader Angkatan Laut Amerika Serikat. R-3 diberi kode NATO AA-2B. Lalu versi yang lebih mutakhir K-13M (R-13M) (IRH) dan K-13R (R-3R) (SARH) dikembangkan pada akhir 1960-an. R-13M secara kasar sekelas dengan AIM-9G Sidewinder yang digunakan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat dengan pemicu jarak yang baru, bahan bakar baru untuk jarak yang lebih jauh, manuver yang lebih baik dan pelacak panas yang lebih sensitif. R-3P adalah versi untuk latihan. (P = prakticheskaya, untuk “latihan”).

Tentu performa AA-2 Atoll untuk ukuran saat ini sudah ketinggalan jaman, rudal ini serupa dengan konsep rudal AIM-9 P2 Sidewinder, dimana untuk menembakkan rudal pilot harus membidik musuh didepannya agar rudal dapat menuju pesawat musuh. Ini tak lain karena rudal hanya akan menuju sumber panas yang dikeluarkan dari exhaust jet tempur.

AA-2 Atoll (K-13) tampak dari sisi belakang sayap
Dilihat dari desain, K-13 memang serupa dengan Sidewinder

Insiden AA-2 Atoll
Prestasi AA-2 Atoll bisa dibilang tidak terlalu cemerlang, ada sepenggal kisah menarik yang melibatkan AA2-Atoll pada insiden Teluk Sidra di Libya pada 19 Agustus 1981. Saat itu pukul 07.00 waktu setempat, radar kapal induk USS Nimitz mengunci dua sasaran. Kedua target yang mengarah ke posisi armada ke-6 itu tak lain adalah jet tempur Su-22 Fitter AU Libya. Bukan hanya radar dari kapal induk saja, kedua pesawat yang berpangkalan di sekitar Tripoli itu juga terdeteksi oleh sebuah E-2C Hawkeye yang terbang di ketinggian 21.000 meter.

Pada saat yang sama, ada dua jet penyergap F-14 Tomcat asal Skuadron Black Aces (VF-41) tengah berpatroli udara (CAP). Tomcat pertama dengan callsign “Fast Eagle 102” diawaki CDR Hank Kleeman /LT Dave Venlet. Sedang pesawat lain bercall-sign “Fast Eagle 107” dikendalikan oleh LT “music”Muczynski/LT JG “Amos” Anderson. Skuadron ini berpangkalan di kapal induk USS Nimitz. Kedua Tomcat tadi lalu diarahkan untuk mencegat Fitter Libya.

Su-22 milik AU Libya

Secara umum jelas kemampuan Fitter tak bisa disejajarkan dengan Tomcat. Dari konsep perancangannya saja, kedua jenis jet tadi sudah jauh berbeda. Sukhoi melansir Su-22 Fitter untuk keperluan serang permukaan (Ground Attack). Artinya semua piranti elektronik dan persenjataan yang diusung dipakai untuk menghantam sasaran darat. Memang ,rudal anti pesawat juga dibawa Fitter.Namun,harus diingat bahwa rudal tadi hanya sekedar untuk pertahanan diri.

Sebaliknya Grumman mendesain F-14 Tomcat murni bagi keperluan pencegat dan duel di udara. Urusan avionik dan persenjataan juga dibuat untuk menghajar pesawat lawan. Baik jarak jauh maupun jarak dekat. Hanya dalam hitungan menit saja kedua tipe jet tempur beda konsep dan generasi tadi akhirnya masuk dalam radius tempur. Mereka saling berhadapan, head-on, lalu terjadilah aksi duel di udara ,dua rudal antipesawat AA-2 Atoll berpemandu inframerah diluncurkan oleh Fitter ke Arah Tomcat.

Ilustrasi jalannya duel udara antara F-14 Tomcat dan Su-22

Entah karena nekat, panik atau memang tak mengenal karakter teknisnya, kedua rudal tadi malah diarahkan langsung ke bagian muka target. Padahal, Atoll merupakan rudal pencari panas dan belum berkemampuan all-aspect (menghantam dari segala sudut), alhasil kedua rudal tadi gagal mengenai targetnya.

Gagal merontokkan jet AS, kedua Fitter tadi berbelok tajam, melarikan diri. Dengan keunggulan manuver dan kecepatan maka tanpa bersusah payah kedua Tomcat tadi mengunci sasaran dan bisa ditebak, berakhirlah riwayat dua jet Libya itu .Sebuah Fitter rontok oleh AIM-9L Sidewinder, bola api disertai getaran hebat memenuhi Teluk Sidra. Sebuah Fitter yang lain beruntung dapat kembali ke pangkalan meskipun harus rusak berat terkena hantaman AIM-9 L sidewinder.

AA-2 Atoll dan MiG-21 AURI
Sayang tidak ada informasi yang jelas, berapa unit Atoll yang pernah dimiliki AURI pada tahun 1960-an. Sebagai ilustrasi saja, sebuah MiG-21 umumnya menggotong dua Atoll, nah MiG-21 yang dimiliki AURI kabarnya berjumlaah 10 unit. Jadi bila setiap pesawat dibekali dengan dua Atoll, bisa diperkirakan populasi Atoll setidaknya ada 20 unit di Indonesia. Sebagai informasi, MiG-21 F memperkuat AURI sampai tahun 1967.

K-13 masih digunakan hingga generasi MiG-23

Semua varian K-13 secara fisik memang menyerupai Sidewinder dengan diameter 127 mm. Walau berjangkauan 8 kilometer, tapi jarak efektifnya adalah sekitar 1 kilometer. Umumnya negara-negara sekutu Uni Soviet menggunakan Atoll sebagai alutsista andalan. Versi lisensi Atoll dibuat di Rumania dengan kode A-91. Versi Republik Rakyat Cina untuk K-13 adalah PL-2, serta PL-3 dan PL-5 untuk versi yang lebih mutakhir. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi K-13
Produksi : Vympel
Panjang : 2,8 meter
Lebar Sayap : 0,53 meter
Diameter : 0,12 meter
Kecepatan : 2,5 Mach
Jangkauan : 6,5 – 8 Km
Pengarah : passive infra-red homing or semi-active radar homing
Hulu ledak : proximity-fuzed blast fragmentation, 6 kg
Tenaga : solid propellant rocket motor

Rapier : Berjaya di Malvinas Jadi Andalan TNI 2 Dekade

Dampak perang Malvinas yang terjadi pada tahun 1982 nyatanya ikut memicu perkembangan militer TNI (dahulu ABRI). Diantara beragam kisah unggulnya alutisista Inggris melawan militer Argentina, terdapat sista pertahanan udara (hanud) yang menarik hati pemerintah Indonesia pada masa itu, tak lain adalah rudal Rapier buatan pabrik British Aerospace.

Rapier adalah rudal darat ke udara (SAM/surface to air missile) yang berperan untuk menghancurkan sasaran pesawat tempur yang berkecepatan tinggi. Kecepatan luncur rudal ini bisa mencapai 2,5 Mach, terbilang handal untuk melahap target pesawat tempur yang bermanuver tinggi. Selama kancah perang Malvinas, setidaknya Rapier sudah merontokkan 14 pesawat tempur Argentina. Rapier sejatinya adalah rudal pertahanan udara jarak pendek (short range), maka itu Rapier amat pas menghajar sasaran yang terbang rendah dengan kecepatan tinggi.

Satu satuan tembak (satbak) Rapier umumnya terdiri atas peluncur berisi empat rudal, penjejak optik, panel kontrol, dan catu daya (genset). Mulanya sistem ini dirancang untuk menghadapi serangan pesawat yang terbang rendah dan cepat, dalam jumlah banyak di siang hari. Tapi, yang dibeli Indonesia nyatanya diberi perlengkapan tambahan berupada radar blindfire. Radar blindfire memungkinkan Rapier tetap ampuh pada melahap sasaran di malam hari. Keampuhan Rapier dengan blindfire ini, agaknya, cukup meyakinkan.

Rapier milik Arhanud TNI AD, terlihat peluncur ditarik dengan jip Land Rover

Rapier mulai dikembangkan pada tahun 1960-an sebagai proyek ET.316, dan mulai masuk operasional di AD Inggris pada tahun 1971. Saat pertama kali dicoba, akhir tahun 70-an, Rapier berhasil menghantam target yang terbang melaju pada kecepatan 0,6 Mach (0,6 kali kecepatan suara) di ketinggian 600 meter. Dalam operasionalnya, Rapier tak akan menghantam pesawat sendiri di tengah kekacauan perang. Sebab, rudal dengan bobot 42 kg ini memiliki sarana elektronik IFF (Identification Friend or Foe). Artinya, sistem Rapier dilengkapi dengan pengirim sinyal radio dalam bentuk kode yang harus dliawab secara otomatis, dengan kode yang telah ditentukan. Bila pesawat yang ditemukan radar memberi kode yang benar, radar pun akan bergerak mencari sasaran lain. Bila tidak, alarm berbunyi dan rudal pun siap ditembakkan.

Rapier sedang dipersiapkan oleh awak AD Inggris (Royal Army)
Ilustrasi aksi Rapier dalam perang Malvinas

Operator Rapier mempunyai dua pilihan, mengendalikan rudal dengan tangan atau menyerahkannya pada radar. Untuk pengendalian dengan tangan, tersedia tongkat yang dapat digerakkan ke segala arah yang diinginkan. Bila sasaran berada dalam jarak tembak, komputer akan memberi tanda, dan rudal pun ditembakkan. Melalui layar televisi, operator memastikan rudal menghantam sasaran dengan menggerakkan tongkat. Hulu ledak rudal ini hanya akan meledak bila mengenai sasaran. Keunggulan lain dari Rapier adalah sistemnya bisa digelar oleh tiga orang dalam tempo kurang dari 15 menit .

Rapier di Indonesia
Selain kepincut karena battle proven saat perang Malvinas, alasan TNI mengadopsi rudal ini karena Rapier telah banyak digunakan oleh banyak negara, terutama negara NATO. Dan dikawasan ASEAN, Indonesia adalah negara ketiga yang membeli Rapier, setelah Brunei Darussalam dan Singapura. Keseragaman di bidang persenjataan antar negara tetangga kala itu menjadi pertimbangan penting, diharapkan dengan memiliki standar alutsista yang sama, maka program kerjasama akan mudah dilakukan bila suatu saat diperlukan.

Bentuk utuh rudal Rapier
Towed Rapier milik AD Singapura

Menurut informasi dari Majalah Tempo (22 Desember 1984), kontrak pembelian Rapier dilakukan pemerintahh RI lewat Departemen Pertahahan pada bulan pertengahan bulan Desember 1984. Disebutkan kontrak pembelian Rapier saat itu sekitar Rp 125 milyar. Pihak British Aerospace akan mengirim sejumlah unit rudal Rapier mulai tahun berikutnya.

Menurut informasi tak resmi, Indonesia membeli sebanyak 51 launcher (peluncur) Rapier. Rudal canggih ini pun langsung ditempatkan untuk menjaga obyek vital, seperti di Arun (NAD), Cikupa (Jawa Barat), Karang Ploso (Malang-Jawa Timur), Bontang (Kalimantan Timur) dan Dumai (Riau). Untuk pengoperasian rudal ini dipercayakan pada Satuan Artileri Perthanan Udara (Arhanud) TNI AD. Unit Arhanud TNI AD yang mengoperasikan Rapier diantaranya Detasemen Arhanud (Denarhanud) Rudal 001 di Kodam Iskandar Muda, Denarhanud Rudal 002 di kodam VI/Tanjungpura, Denarhanud Rudal 003 di Kodam Jaya dan Denarhanud Rudal 004 di kodam I/Bukit Barisan. Rudal ini kabarnya baru mulai operasional di Indonesia pada tahun 1987.

Rapier Arhanud TNI AD dalam sebuah defile
Radar Blindfire

Setiap Denarhanud terdiri dari 11 (sebelas) satbak Rudal Rapier, komposisi ini dicontohkan pada Denarhanud Rudal 002. Setiap satbak Rapier terdiri dari :
1. Peluncur (Launcher).
2. Penjejak Optik (Optical Tracker).
3. Alat Bidik Bantu (Pointing Stick).
4. Unit Pengendali Taktis (SEZ = Selector Engagement Zone).
5. Sarana Peyakin Operator (OCF = Operator Confidence Facility).
6. Rudal (Missile).
7. Generator (GSGE = Generator Set Gasoline Engine).

Selain itu 1 (satu) satbak Rapier juga dilengkapi dua unit kendaraan penarik jenis Land Rover 110 yang terdiri dari 1 (satu) unit FUT (Firing Unit Truck) dan 1 (satu) unit DSV (Dettachment Support Vehicle). Tiap satbak Rapier diawaki oleh depalan orang personel, terdiri dari 1 (satu) orang Komandan Satuan Tembak (Dansatbak), 1 (satu) orang Bintara Satuan Tembak (Basatbak), 2 (dua) orang Bintara Penembak (Babak), 2 (dua) orang Tamtama Operator (Taop) dan 2 (dua) orang Tamtama Pengemudi (Tamudi).

Land Rover penarik peluncur Rapier
Rapier juga digunakan AD Inggris dalam platform kendaraan lapis baja

Untuk menambah kemampuan deteksi, tiap Denarhanud dilengkapi satu unit Radar Radar Giraffe yang merupakan Radar Peringatan Setempat sekaligus Radar Pengendali Pertempuran bagi Satbak-Satbak Rudal Rapier. Radar Giraffe dapat menangkap 9 (sembilan) sasaran sekaligus, dan dapat membaginya ke Satbak-Satbak Rudal Rapier secara terintegrasi. Radar Giraffe yang ada di satuan Denarhanud Rudal-002 Dam VI/Tpr ditempatkan di atas kendaraan Truck 16 Ton merk Volvo.

Radar Giraffe milik satuan Arhanud TNI AD

Mengingat bahwa Satbak Rudal Rapier mempunyai sifat-sifat yang khusus, maka daerah gelar Satbak Rudal Rapier harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1.Medan harus cukup luas dan keras untuk menggelar semua peralatan.
2. Jalan pendekat (masuk dan keluar) cukup baik.
3. Mempunyai sektor tembakan yang tidak terhalang.
4. Jauh dari tegangan tinggi minimal 300 meter.
5. Kemiringan tempat gelar daripada Launcher (Peluncur) tidak boleh lebih dari ± 90 mil (± 5º ).
6. Sudut elevasi antara Launcher dengan Optical Tracker tidak boleh lebih dari ± 180 mil (± 10º).
7. Jarak antara Launcher dengan benda-benda yang mudah terbakar atau gedung-gedung ± 10 meter.
8. Jarak antara Launcher dengan Runway dan Taxiway ± 30 meter.

Sudah Pensiun
Karena usian yang tua, kini arsenal Rapier telah dinyatakan pensiun dari kedinasan dan disimpan dalam depo TNI AD. Hal ini didasarkan Rapier telah melewati batas Lost Point maksimal sehingga sudah tidak aman lagi untuk ditembakkan, ini berdasarkan Surat Telegram Danpussenart Nomor ST/62/2002 tanggal 15 Agustus 2002 tentang larangan untuk menembakkan Missile Rudal Rapier yang masih tersisa. Sebagai penggantinya, tiap Denarhanud TNI AD kini mengoperasikan kanon 23 mm/Zur komposit dengan Rudal Grom yang merupakan senjata anti pesawat udara buatan Polandia.

Rapier kini sudah pensiun dalam kedinasan Arhanud, Rapier saat ini masih disimpan dalam depo

Rapier Next Generation
Melihat kisah sukses Rapier, pihak manufaktur rudal ini pun mengembangkan spesifikasi Rapier menjadi “Rapier 2000”. Rapier anyar ini ditawarkan oleh MBDA (perusahaan hasil merger dari British Aerospace, Aerospatiale Matra Missile dan Finmeccanica). Diantara fitur yang ditawarkan Rapier 2000 adalah integrasi sistem peluncur Jernas. Jernas menjadikan unit Rapier tampil lebih ringkas, dalam satu peluncur sudah terintegrasi generator dan optical tracker. Selain Inggris, Jernas saat ini digunakan oleh AD Malaysia. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Jernas Rapier 2000, peluncur dapat mengusung 8 rudal sekaligus

Spesifikasi Rapier
Mesin : Roket berbahan bakar padat
Berat : 45 Kg
Panjang : 2,235 meter
Diameter : 0.133 meter
Kecepatan : 2,5 Mach
Jangkauan : 400 – 6,800 meter
Ketinggian : 3000 meter
Hulu ledak : Peledak fragmentasi
Platform peluncur : kendaraan darat
Negara pengguna : Inggris, Indonesia, Turki, Malaysia, Swiss, Singapura, dan Australia

DShK-38 : Senjata Maut Pembabat Fretilin

DShK-38 tampil lengkap dengan tripod

Sebelum menggunakan SMB (Senapan Mesin Berat) browning M2HB, TNI sebenarnya sudah punya pengalaman menggunakan SMB lain yang juga tak kalah populer. Yakni DShk-38 buatan Uni Soviet (sekarang Rusia). DShK (Degtyaryova-Shpagina Krupnokaliberny) mulai dikembangkan pada awal tahun 1930-an, dan secara resmi diadopsi oleh militer Uni Soviet pada tahun 1938. Serupa dengan browning M2HB dari AS, DShK-38 juga sudah eksis digunakan dalam perang dunia kedua.

Senapan mesin legendaris ini dirancang oleh Vasily Degtyaryov dan sistem mekanisme cartridge feed-nya dikembangkan oleh Georgi Shpagin. DShK-38 dirancang sebagai senjata pemukul untuk sasaran darat dan udara jarak pendek. Bila digunakan di darat, SMB ini biasa digunakan oleh unit kavaleri dan infantri. Pada unit kavaleri, DShK sudah menjadi standar ditempatkan pada turret beragam MBT (Main Battle Tank) Uni Soviet, bahkan tank ringan PT-76 dan panser amfibi BTR-50 turut mengadopsi DShK sebagai arsenal senjata andalan. Bahkan tampilan DShK cukup mencolok di beberapa negara Afrika dan Afganistan, yakni penempatan SMB ini pada bak mobil pick up.

DShK menjadi senjata pamungkas anti serangan udara pada MBT buatan Rusia

Buat publik di Tanah Air, mungkin yang paling berkesan adalah penempatan DShK-38 di pansam BTR-50 Korps Marinir. Sejak era operasi Trikora dan Seroja, Korps Marinir sangat khas menggunakan DShK lengkap dengan perisai baja untuk perlindungan juru tembak. Walau versi BTR-50 yang kini digunakan TNI-AL (setelah hasil retrofit) sudah jarang menempatkan DShK-38.

DShK-38 tampil dengan wheel mounting

Selain populer di unit kavaleri, SMB ini juga bisa digunakan oleh satuan infantri. Dengan bobot 34 Kg (tanpa amunisi), pastinya cukup repot memobilisasi senjata ini. Untuk itu dalam infantri, wajar bila DShK dioperasikan dengan case khusus beroda dua, mirip dengan model meriam/kanon. Dengan demikian SMB ini mudah digerakkan, dibawa atau dipindahkan dengan bantuan pengait pada jip atau truk.

DShK-38 hadir dengan variasi pisir, untuk kebutuhan anti serangan udara, DShK dibekali pisir khusus berbentuk jaring laba-laba. Biasanya ini populer digunakan oleh satuan artileri pertahanan udara. DShK-38 pun hingga kini tercatat sebagai arsenal senjata pada Arhanudri (Artileri Pertahanan Udara Ringan) TNI-AD.

BTR-50 Korps Marinir dilengkapi DShK-38 saat operasi Seroja di Timor Timur

Sebagai senjata yang menyandang gelar battle proven, DShK-38 mampu memuntahkan 600 butir peluru per menit. Sedangkan jarak tembak maksimumnya mencapai 2000 meter dengan kecepatan luncur peluru 850 meter per detik. DShK-38 beroperasi dengan sistem operasi gas, tipe cartridge yang digunakan adalah jenis 12,7 x 108 mm. Bila tanpa amunisi bobot SMB ini 34 Kg, tapi saat ditancapkan pada platform wheeled mounting bobot senjata ini menjadi 157 Kg.

DShK-38 dipasang pada kereta di Rusia

Walau di Indonesia kiprahnya telah memudar, DShK-38 masih tetep populer diadopsi oleh negara-negara sekutu Rusia. SMB ini pun sudah diproduksi secara lisensi oleh Cina, Pakistan, dan Rumania. Salah satu prestasi tempur DShK-38 yakni mampu menjatuhkan helikopeter Lynx Inggris pada tahun 1990 di Irak. Untuk di Tanah Air, gerombolan Fretilin dan pasukan Tropaz pastinya sudah pernah merasakan muntahan pelor maut dari DShK-38, salah satunya yang dipasang pada ranpur BTR-50. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi DShK-38
Kaliber : 12,7 mm
Rata-Rata Tembakan : 600r/menit
Kecepatan Peluru : 850 meter/detik
Jarak Tembak Efektif : 2000 meter
Berat : 34 Kg
Amunisi : Sabuk
Mekanisme : gas operated
Produksi awal : 1938