Huon Class, Sekilas Mirip Tripartite Class TNI AL, Inilah Kapal Penyapu Ranjau Andalan Australia

Dalam suatu kunjungan ke Sydney, Australia di tahun 2013, tepatnya saat menumpangi kapal ferry dari Circular Quay menuju Manly, terlihat beberapa kapal perang AL Australia/RAN (Royal Australian Navy) bersandar di kawasan Port Jackson yang merupakan Fleet Base East RAN. Dari beberapa kapal perang yang sandar, ada kapal perang yang dimensinya terbilang kecil, dan langsung mengingatkan kami pada sosok kapal pemburu/sapu ranjau andalan Satuan Kapal Ranjau (Satran) TNI AL, yakni Tripartite Class, yaitu KRI Pulau Rengat 711 dan KRI Pulau Rupat 712.

Baca juga: Saab Koster Class – Kandidat Kapal Pemburu Ranjau Terbaru Untuk TNI AL

Selain punya bentuk lambung da struktur mirip dengan Tripartite Class, dan setelah ditelusuri ternyata kapal yang dimaksud juga berperan sebagai penyapu ranjau, maka rasanya menarik untuk dikupas lebih dalam tentang Huon Class, kapal penyapu ranjau yang menjadi andalan AL Australia sejak tahun 1999. Kemiripan Huon Class dengan Tripartite Class yang buatan galangan GNM Belanda terkhusus pada bagian lambung (meski beda penempatan posisi jangkar) dan kemiripan desain buritan, dimana bagian buritan menjadi tempat perangkat side scan sonar dan crane. Dan yang pasti keduanya dibangun mengikuti standar NATO. Tentang detail kapal panyapu ranjau Tripartite Class telah kami kupas di artikel terdahulu, dan untuk melihatnya dapat meng-klik judul pada tautan dibawah ini.

Baca juga: Tripartite Class – Kapal Pemburu Ranjau Andalan TNI AL

KRI Pulau Rupat 712

Baca juga: Berencana Beli 2 Unit Penyapu Ranjau Baru, TNI AL Siap Pensiunkan Tripartite Class

Keberadaan Huon Class sejatinya adalah wujud kemandirian alutsista yang berasal dari proses ToT (Transfer of Technology). Rancangan Huon Class berasal dari desain kapal penyapu ranjau besutan Italia, Gaeta/Lerici Class. Sebagai pihak pemberi ToT adalah Intermarine SpA dari Italia, dan mitra manufaktur dalam negeri adalah Australian Defence Industries (ADI). Sejak dibangun pada rentang periode 1994 – 2003, total enam unit Huon Class telah diproduksi, yaitu HMAS Huon 82 (1999), HMAS Hawkesbury 83 (2000), HMAS Norman 84 (2000), HMAS Gasgoyne 85 (2001), HMAS Diamantina 86 (2002), dan HMAS Yarra 87 (2003).

Serupa dengan Tripartite Class milik TNI AL, Huon Class dibuat dengan lambung single skin monocoque dengan material khusus yang tidak menimbulkan jejak magnetik, yakni mengadopsi jenis plastik yang diperkuat dengan kaca (Glass-Reinforced Plastic atau GRP). Dalam operasi buru dan sapu ranjau, Huon Class dengan Variable Depth Sonar yang dapat mendeteksi keberadaan obyek ranjau dari jarak 1.000 meter di depan kapal. Saat ranjau yang berada mengambang atau berada di dasar laut, maka kapal akan berada sekitar 200 meter dari obyek kontak ranjau, dan selanjutnya Huon Class meluncurkan wahana khusus untuk menetralisir keberadaan ranjau.

Jenis Variable Depth Sonar disebutkan menggunakan Type 2093 minehunting dari Thales Underwater Systems. Sonar ini beroperasi pada hull-mounted mode or in variable depth mode. Sonar ini berjalan di frekuensi 30 sampai 100 kHz untuk deteksi dan 300 sampai 500 kHz untuk klasifikasi. Sistem ini mencapai rentang deteksi lebih dari 1000 meter dan rentang klasifikasi sasaran lebih dari 200 meter. Sementara wahana jenis Remotely Operated Vehicle (ROV), dalam hal ini yang dipercayakan adalah Saab Bofors Underwater Systems Double Eagle Mk 2 mine disposal vehicles. Setiap kapal membawa dua unit ROV Double Eagle Mk 2. Khusus tentang wahana ROV ini kami telah membahasnya di artikel terdahulu, simak pada judul tautan dibawah ini.

Baca juga: Saab Double Eagle – Robot Pendeteksi dan Penghancur Ranjau Laut

Huon Class punya bobot 732 ton, lebih berat ketimbang Tripartite Class yang bobot totalnya 599 ton. Panjang kapal 52,5 meter dan kapal ditenagai 1 × Fincantieri GMT BL230-BN diesel motor, 1,985 bhp (1,480 kW) 1 x controllable-pitch propeller. Khusus untuk misi berburu ranjau, digunanakan 3 × 120 hp (89 kW) Riva Calzoni azimuth thrusters. Bicara tentang kecepatan, saat menggunakan mesin diesel, dapat dicapai 14 knots (26 km/h). Sedangkan dengan thrusters dicapai 6 knots (11 km/h). Dengan bekal penuh, endurance kapal bisa mencapai 19 hari dengan jarak jelajah 3.000 km pada kecepatan 12 knots.

Dengan awak 46 orang, Huon Class dilengkapi bekal sistem senjata pertahanan yang lebih ampuh dari Tripartite Class, yakni pada haluan terdapat 1 unit kanon reaksi cepat MSI DS 30B kaliber 30mm, sebagai perbandingan pada anjungan Tripartite Class dilengkapi kanon Rheinmetall laras tunggal kaliber 20 mm. Sebagai informasi, kanon kanon reaksi cepat MSI DS 30B serupa juga disematkan sebagai senjata PSU (Penangkis Serangan Udara) di korvet Bung Tomo Class. (Haryo Adjie)

Baca juga: DS 30B REMSIG 30mm – Dibalik Kecanggihan Kanon PSU di Korvet Bung Tomo Class TNI AL

Spesifikasi Huon Class RAN
– Displacement: 732 tonnes
– Length: 52,5 metres
– Beam: 9,9 metres
– Draught: 3 metres
– Speed: 14 knots
– Range: 3.000 km
– Crew: 46
– Propulsion: 1 x Fincantieri GMT diesel, 3 x Isotta Fraschini 1300 diesels, 3 x electrohydraulic motors, dan Riva Calzoni retractable/rotatable APUs
– Guns: 1 x MSI DS 30B 30mm
– Physical Countermeasures: 2 x Bofors SUTEC Double-Eagle Mk 2 mine disposal vehicles, 2 x MEL Aviation Super Barricade chaff launchers
– Electronic Countermeasures: AWADI Prism
– Radars: Kelvin Hughes 1007
– Sonars: Type 2093
– Combat Data Systems: GEC-Marconi Nautis 2M
– Weapon Control Systems: Radamec 1400N optronic surveillance system

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *