Close Up! Konfigurasi Awak Ranpur MBT Leopard 2Ri TNI AD

Sebagai Main Battle Tank (MBT), Leopard 2Ri tak perlu disangsikan lagi kecanggihan dan keperkasaannya. Alutsista andalan Kavaleri TNI AD ini malah didapuk sebagai tank tempur utama tercanggih di Asia Tenggara saat ini. Namun dibalik kecanggihannya, ada empat pengawak tank yang menjadi penentu keberhasilan Leopard 2Ri dalam menuntaskan misi yang diembannya. Bersama dengan host Baby “Lara Croft” Margaretha, Indomiliter.com kali ini mengajak pembaca untuk mengenal lebih dekat peran dan fungsi empat awak tank Leopard 2Ri yang ada di Batalyon Kavaleri 1/Tank Kostrad.

Baca juga: Jelajahi “Body” MBT Leopard 2Ri Bersama Lady Lara Croft

Awak MBT Leopard 2A4 dan 2Ri terdiri dari pengemudi, komandan, penembak, dan pengisi amunisi, yang keempatnya saling berkomunikasi lewat interkom pada headset. Berikut kami bedah peran dan fungsinya, dan di akhir artikel Anda sekalian dapat melihat tayangan video eksklusif yang memperlihatkan dari dekat konfigurasi pengawak di MBT ini.

Pengemudi
Juru mudi atau pengemudi memiliki konsol utama berupa setir dengan bentuk trapesium. Sementara panel indikator, seperti suhu mesin, penunjuk rpm, tekanan oli, dan aneka sensor kerusakan disematkan di sebelah kirinya. Transmisi MBT ini sudah menggunakan jenis matik, pengemudi tak perlu lagi repot-repot menginjak pedak kopling. Gigi pertama akan melesatkan tank pada kecepatan 4 – 15 km per jam, gigi kedua 31 km per jam, gigi ketiga 45 km per jam, dan gigi keempat melesatkan tank 68 km per jam. Sementara untuk mundur, terdapat dua gigi yang disiapkan, gigi pertama punya kecepatan maksimum 15 km per jam, dan gigi kedua sampai 31 km per jam. Pada varian Leopard 2Ri, navigasi pengemudi dipermudah dengan adanya kamera pada bagian depan dan belakang kendaraan.

Komandan
Komandan, posisinya berada di sebelah kanan kubah, tugas komandan adalah mengidentifikasi sasaran, dan lingkungan sekitarnya. Untuk tugas tersebut, mata komandan didukung day optic dan thermal imaging PERI R-17. Dengan perangkat ini komandan dapat memantai kondisi di sekitraran tank 360 derajat. Dengan joytick, komandan dapat menggerakkan arah kubah sampai selaras dengan pandangan gunner.

Lubang palka (hatch) komandan, berada di sebelah kanan (arah kubah).

Baca juga: Setelah Drive Training Vehicle, Kini Kavaleri TNI AD Operasikan Simulator MBT Leopard 2A4

Aksi komandan mengoperasikan joystick di dalam kubah.

Pengisi Amunisi (Loader)
Keluarga MBT Leopard 2 mengusung model pengisian amunisi secara konvensional, artinya untuk tugas ini dipasrahkan pada seorang pengisi amunisi (loader). Kecepatan pengisian peluru boleh jadi kalah cepat dengan sistem autoloader, namun berkat latihan secara terus-menerus, seorang loader yang handal dapat menyamai bahkan melebihi kemampuan sistem autoloader. Kelebihan sistem konvensional, loader dapat memilih jenis-jenis peluru sesuai dengan perintah komandan. Sebagai perbandingan, pada sistem autoloader sistem peluru yang ditembakkan sudah di setting sesuai alur saat dimasukkan ke kubah.

Lubang palka pengisi amunisi (loader) berada di sebelah kiri (arah kubah).

Ruang amunisi.

Penembak (Gunner)
Bila sasaran telah berhasil diidentifikasi, selanjutnya komandan memberi perintah kepada penembak. Apa yang dilihat dalam bidikan penembak, maka komandan pun dapat melihat tampilan yang sama, artinya proses tembakkan dapat diselaraskan dengan respon yang cepat. Setelah sasaran telah diidentifikasi, penembak menempelkan wajahnya ke optic bidik HZF yang mempunya dua setelan, yakni siang dan malam. Untuk mode siang dilengkapi 12x pembesaran, sementara mode malam hari ada 4x atau 12x.

Untuk moda siang, lensanya dilengkapi filter laser sehingga tak mempan laser intensitas tinggi yang digunakan untuk membutakan optik. Tersedia dua settingan tampilan, white thermal input dan black thermal input. Dalam kondisi black thermal, obyek yang menghasilkan panas akan berpendar dalam warna hitam sehingga memudahkan penembak dalam melihat sasaran. HZF memiliki field of view selebar 5 derajat, cukup memadai untuk mengidentifikasi sasaran berupa tank pada jarak 2.000 meter. Sementara laser rangefinder Leopard 2Ri bisa mengukur sasaran sampai ke jarak 9.900 meter. Setelah itu, komputer balistik digital mulai melakukan perhitungan sudut bidikan dan simpangan untuk meriam 120 mm dengan memasukka data dari sensor jarak, sudut kemiringan tank, arah gerakan pada sasaran, kecepatan, sampai arah angin.

Dalam proses akhir menuju penembakkan, antara komandan dan penembak tetap memfokuskan matanya pada sasaran dan terus menjaga agar crosshair ada di titik tengah yang diberikan oleh solusi penembakkan dengan bantuan joystick. Selagi penembak berkonsentrasi, komputer juga terus bekerja dan melakukan koreksi elevasi dan azimuth yang dibutuhkan, terutama apabila tank terus dalam kondisi bergerak. Begitu sasaran benar-benar telah dikunci, maka penembak tinggal menekan tombol tembak, dan melesatlah peluru 120 mm ke sasaran.

Perangkat bidik pada gunner.

Baca juga: Pionierpanzer 2Ri Dachs TNI AD – Armoured Engineer Vehicle dari Platform MBT Leopard

Meriam
Meriam pada MBT Leopard 2Ri menggunakan L/44 smoothbore kaliber 120 mm buatan Rheinmetall. Amunisi yang dikembangkan Rheinmentall bersifat semi combustible, yaitu kelongsongnya akan terbakar habis selama proses pembakaran awal, melesatkan penetrator yang dibungkus oleh sabot ke arah mulut laras, menyisakan piringan primer yang dibuang ke arah luar kubah. Meriam L/44 dianggap cukup mumpuni untuk menghadapi sasaran dengan jarak tembak dikisaran 2.000 meter. Ditambah lagi, untuk kontur medan di Indonesia, jarak 2.000 meter bolehlah dianggap cukup optimal, karena kontur dan vegetasi medan di Indonesia nyaris tak pernah menyediakan kesempatan kontak pada jarak tersebut.

Setelah membaca artikel diatas, untuk lebih jelasnya pembaca sekalian dapat menyimak video eksklusif di bawah ini tentang konfigurasi awak ranpur MBT Leopard 2Ri. (Haryo Adjie)

 

38 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *