Air Tractor AT-802U: Sang Penantang Super Tucano, “Battle Proven” di Langit Papua

Masih ingat saat Presiden Jokowi mencanangkan program BBM satu harga di Papua pada Oktober 2016. Merespon permintaan pemerintah pusat, PT Pertamina lewat Pelita Air lantas mendatangkan dua unit pesawat turboprop Air Tractor AT-802. Pesawat yang bisa bermanuver tinggi dan tingal landas dari bandara perintis ini digadang dapat membawa 4 ribu liter BBM ke daerah pedalaman Papua.

Baca juga: NU-200 Sikumbang – Pesawat Anti Gerilya dari Bumi Priangan, Jadi Koleksi Museum Dirgantara Mandala

Meski desainnya berasa jadul dengan tail wheel ala P-51 Mustang, namun sejatinya Air Tractor AT-802 terbilang pesawat baru, pasalnya pesawat besutan Air Tractor Inc, Texas, Amerika Sertikat ini baru terbang perdana pada Oktober 1990. Beragam varian AT-802 sudah laris manis di pasaran, debutnya lebih kondang sebagai pemadam kebakaran dan penyemprot pada lahan pertanian.

Namun ada yang berubah dari AT-802 sejak 2008, setelah AU AS merilis program Light Attack/Armed Reconnaissance (LAAR), pesawat ini disulap sebagai versi AT-802U yang dipersenjatai dan dilengkapi beragam sensor penginderaan. Bahkan untuk memenuhi tuntutan Pentagon, bebrrapa bagian vital di AT-802U dilengkapi proteksi yang mampu menahan terjangan proyektil. Mampu melakukan penyerangan dengan kecepatan rendah, AT-802U sontak menjadi pesawat tempur COIN (Counter Insurgency). Dalam beberapa jurnal, AT-802U disebut-sebut sebagai lawan tanding terberat untuk EMB-314 Super Tucano, jenis pesawat COIN yang kini digunakan TNI AU.

Baca juga: EMB-314 Super Tucano – Tempur Taktis Penjaga Perbatasan NKRI

AT-802U kemudian menerima sejumlah perubahan, khususnya untuk meningkatkan kemampuannya bertahan dari tembakan senjata ringan serta pemasangan sistem sensor untuk mengidentifikasi sasaran. Kokpit dan sekitar tangki bahan bakar menerima penambahan lapisan pelat baja yang kuat menahan impak peluru 7,62 mm. Untuk menemukan sasaran di darat, AT-802U dilengkapi IOMAX Flexible Pod yang dipasang di pylon tengah dengan sensor optics/infra red L3/MX-15 Wescam. Sensor ini digunakan untuk memandu bom pintar.

AT-802U dapat membawa 4 ton senjata di 8 pylon yang tersisa, meski roda pendaratnya dirancang dapat menahan payload hingga 7 ton. Jika Super Tucano TNI AU hanya dilengkapi dua pucuk Senapan Mesin Berat (SMB) 12,7 mm, tabung roket FFAR atau dumb bomb Mk81/82, maka AT-802U membawa muatan senjata canggih yang biasanya hanya diperuntukkan bagi pesawat tempur jet. Daftarnya mencakup roket pintar CIRIT buatan Turki dan DAGR 2,75, bom laser Paveway II, atau rudal anti tank AGM-114 Hellfire. Amerika Serikat sendiri hanya memasok senjata-senjata canggih tersebut ke UAE dalam paket penjualan F-16 sebelumnya.

Di awal penugasannya, AT-802U (two seat cockpit) digadang oleh USSOUTHCOM AOR untuk menggasak fasilitas dan jaringan narkotika. Baru kemudian setelah melihat potensi pengembangan pesawat lebih maju, AT-802U dikonversi oleh IOMAX sebagai AT-802L untuk misi CAS (Close Air Support), jenis varian yang ditawarkan untuk AB Kenya. Sementara Yordania sudah lebih dulu menggunakan versi AT-802 U/I untuk misi memerangi milisi di Suriah dan Irak.

Baca juga: Inilah Fakta Tentang FN Herstal M3P di Super Tucano TNI AU

Di Timur Tengah, AT-802U dibeli dalam jumlah besar oleh Uni Emirat Arab (UEA) yang memesan 24 unit pada 2011 dan mulai menerimanya untuk digunakan oleh Komando Pusat Pasukan Khususnya di Kamp Falaj Hazza, dekat Al Ain. 10 pesawat pertama, disebut Block I, datang pada 2013 dan enam di antaranya disumbangkan untuk AU Yordania. 14 pesawat sisanya, disebut Block II, selesai diserahkan pada 2015 dan menjalankan misi rahasia di Libya. Perbedaan antara Block I dan Block II ada pada kapasitas gotong senjatanya, dimana Block II menerima perkuatan struktur sayap dan pylon untuk membawa bom berpemandu laser.
UEA dikabarkan menginginkan untuk memesan 24 pesawat tambahan dengan kemampuan untuk membawa lebih banyak senjata lagi.

Gatling gun (tiga laras) dan roket FFAR jadi ciri khas AT-802U.

IOMAX dikabarkan tidak mampu memenuhi spek tambahan yang diinginkan oleh AU UEA, sehingga akhirnya menghubungi Thrush Aircraft untuk mengembangkan AT-802 dengan spek khusus tersebut. Disebut AT-802U Block III atau kemudian disebut Archangel, pesawat ini didasarkan pada pesawat Thrush S2R-660. S2R-660 merupakan penyempurnaan lebih lanjut dari AT-802 dan menampilkan kokpit tandem dengan bubble canopy yang modern.

Kursi navigator (bagian belakang)

AT-802U dikabarkan digunakan oleh UEA secara rahasia di Libya untuk mendukung faksi Libya National Army yang dipimpin Jenderal Khalifa Haftar. AT-802U tersebut mulai tiba di Libya pada Juni 2015 dengan penanda atau marking yang disamarkan. Beroperasi dari Tobruk, AT-802U menghajar sasaran-sasaran milik faksi lain yang berpusat di Benghazi.

AT-802 memang khas pesawat untuk misi ‘pertanian’ dengan fuselage lebar dan sayap membentang lurus untuk kestabilan di ketinggian rendah dengan roda pendarat yang tidak bisa ditarik. Dapur pacunya disokong mesin Pratt & Whitney PT6A-67F berdaya 1.600shp yang memutar lima bilah propeller, dan mampu membawa AT-802U terbang selama 10 jam dengan muatan penuh.

AT-802 Susy Air

Di Asia Tenggara, AT-802U masih mencari pasar, pada LIMA tahun 2013, Malaysia sempat ditawari pesawat ini. Sementara Indonesia menggunakan versi sipil AT-802A (single seat cockpit) yang dimodifikasi bagian bawah fuselage-nya untuk kapasitas bahan bakar eksternal. Selain dioperasikan oleh Pelita Air, AT-802 yang juga versi tanker dioperasikan oleh Susy Air untuk distribusi BBM di pedalaman Kalimantan. (Gilang Perdana)

Spesifikasi AT-802U
– Crew: Two
– Length: 10,95 meter
– Wingspan: 18,06 meter
– Height: 3,89 meter
– Empty weight: 2.951 kg
– Gross weight: 7.257 kg
– Powerplant: 1 × Pratt & Whitney PT6A-67F turboprop, 1.600 shp
– Cruise speed: 394 km/h
– Range: 2.414 km
– Service ceiling: 7.620 meter
– Rate of climb: 4,3 m/s

11 Comments