Aerostar TUAV: Drone Intai Andalan Skadron Udara 51 TNI AU

image250

Dengan latar kondisi dan tantangan di kawasan Timur Tengah memaksa Israel menjadi kekuatan nomer satu dalam pengembangan teknologi drone/UAV (Unmanned Aerial Vehicle). Didukung AS, keterlibatan vendor drone Israel seperti IAI (Israel Aerospace Industries), Elbit dan Aeronautics Defense Systems hingga kini telah menelurkan beberapa jenis drone yang populer seperti Heron, Searcher, Scout, Hermes dan Aerostar. Bahkan tak sedikit varian drone kombatan, UCAV (Unmanned Combat Aerial Vehicle) yang sudah dilibatkan langsung dalam operasi militer.

Baca juga: LSU-02 LAPAN – UAV Pertama yang Take Off dari Kapal Perang TNI AL

Aerostar TNI AU, nampak belum terpasang perangkat sensor dan kamera.
Aerostar TNI AU, nampak belum terpasang perangkat sensor dan kamera.
Aerostar dalam box cargo, sebelum dirakit.
Aerostar dalam box cargo, sebelum dirakit.

Baca juga: Wulung UAV – Pesawat Tanpa Awak Pengawal Perbatasan RI

798191_20150430011841

Baca juga: Wulung UAV – Tantangan Dibalik Sistem Kendali dan Komunikasi Data

Lembaga riset kenamaan Frost and Sullivan di tahun 2013 mengungkap penjualan drone Israel selama delapan tahun terakhir telah mencapai nilai US$4,6 miliar, dan nilai kontrak pun dipercaya terus meroket. Saking fokusnya pada industri drone, negara-negara besar seperti Jerman, AS, Rusia, dan India pun menjadi pengguna drone besutan Israel. Status Israel yang kini jadi negeri rujukan untuk drone, secara tak langsung telah memikat Indonesia (TNI) untuk ikut menggunakan drone produksi Israel.

Sejak tahun 2012, gembar gembor kedatangan drone Israel mulai ramai dibicarakan di Tanah Air, sempat tersebut Indonesia akan mengakuisisi 4 unit Heron yang punya kemampuan MALE (medium altitude long endurance), tapi seiring berjalannya waktu, tak ada penampakan Heron di Indonesia. Ada anggapan Heron kurang ideal digunakan di Indonesia, mengingat dimensi pesawat yang dirasa terlalu besar.

Baca juga: UAV Heron, Apa Kabarmu Saat Ini?

156techniciansc1049998068

Baca juga: Airbus Defence and Space Perkenalkan Teknologi Counter Drone (UAV)

Selain Heron, ada jenis drone lain yang disandingkan ikut masuk ke Indonesia, seperti Aerostar dan Searcher MK II yang disebut-sebut sudah di datangkan untuk BAIS pada tahun 2012. Nah, dari keduanya, sampai saat ini baru Aerostar buatan Aeronautics Defense Systems yang wujudnya sudah diperlihatkan ke publik, melengkapi UAV Wulung dari BPPT dan PT DI (Dirgantara Indonesia) pada Skadron Udara 51 di Lanud Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat. Karena tak ada hubungan dagang dan diplolamatik antara Indonesia dan Israel, pengadaan Aerostar dilakukan lewat perantara Philippine Kital Corp.

Aerostar TUAV
Oleh manufakturnya, Aerostar disebut sebagai TUAV (Tactitcal Unmanned Aerial Vehicle). Ada identitas tactitcal didasarkan perannya sebagai eksekutor dari peran intelijen, pengintaian udara, dan akuisisi target. Dengan bekal kemampuan MALE, drone ini dapat melakukan tugas intai dan intelijen secara real time pada coverage yang luas dalam waktu yang lama.

Baca juga: OS-Wifanusa – Prototipe Drone Pesawat Amfibi Untuk Misi Intai Maritim

aerostar_with_dsp13339931_20141210120535

Baca juga: Pulau Natuna Akan Dipersiapkan Sebagai Basis Drone UAV

Untuk sistem kendali, seperti halnya drone Wulung, unit kendali Aerostar dilakukan dari GCS (Ground Control Station), mekanismenya bisa dilakukan remote melalui jalur LoS (Line of Sight) hingga jarak 200 km, bisa juga dengan menjalankan moda otomatis dengan memanfaatkan waypoint GPS. Dan tentunya untuk operasi jarak jauh biasa dilakukan mengandalkan fasilitas data link dari satelit. Sementara penunjang komunukasi antar pesawat dengan GCS disediakan directional antenna dan multi-channel data link system besutan Commtact.

Dari sejarahnya, Aerostar mulai masuk kedinasan pada tahun 2000. Sebagai operator perdana adalah Kepolisian Israel untuk tugas pantau kemacetan lalu lintas, identifikasi krminalitas sampai misi pencarian orang hilang. Secara umum bisa disebut Aerostar dapat digunakan untuk keperluan sipil dan militer. Meski tak dipersenjatai, drone ini dalam pertempuran kerap digunakan artillery fire adjustment, target designation, dan pengawas area perbatasan. Soal kemampuan tak perlu diragukan, Aerostar yang dilengkapi mesin propeller sanggup beroperasi di kondisi segala cuaca, termasuk pada malam hari.

Baca juga: Robot Burung Flapping Wing Untuk Misi Pengintaian Tersamar

Perangkat navigasi pada Ground Control Station Aerostar.
Perangkat navigasi pada Ground Control Station Aerostar.
Operator AB Israel mengendalikan Aerostar dari GCS.
Operator AB Israel mengendalikan Aerostar dari GCS.
Rute Aerostar dapat di setting otomatis lewat waypoint.
Rute Aerostar dapat di setting otomatis lewat waypoint.

Baca juga: TOPX4-B132 – Prototipe Quadcopter UAV dari Dislitbang TNI AD

Bekal sensor dan perangkat elektronik yang bisa dibawa sifatnya bisa di customized sesuai keinginan operator. Dengan bekal payload hingga 50 kg, sensor yang dapat dibawa mencakup jenis electro optic (EO) dan sensor infra merah/FLIR (Forward Looking Infra Red). Sensor EO akan mengkonversi light rays menjadi sinyal elektronik untuk menangkap citra real time. Saat mengudara, Aerostar punya kemampuan sistem identifikasi otomatis, bekal radio VHF/UHF, stabilisator vertikal, UMAS digital flight control systems, dan hands-on throttle and stick control system. Remote payload control system yang terletak di bawah bodi menjadi unit penerima perintah dan pengendali pesawat atas seluruh operasi.

Antena pada GCS yang menghubungkan komunikasi ke drone Aerostar.
Antena pada GCS yang menghubungkan komunikasi ke drone Aerostar.
Aerostar Nigeria.
Aerostar Nigeria.
Aerostar juga mudah di mobilisasi dengan truk.
Aerostar juga mudah di mobilisasi dengan truk.

Bila diperlukan, Aerostar dapat pula dipasangi radar jenis synthetic aperture radar (SAR), signal intelligence (SIGINT) dan communication intelligence (COMINT). Bicara tentang dapur pacu, Aerostar dilengkapi mesin tunggal Zanzottera 498i two-stroke boxer yang mampu menghasilkan tenaga 28kW. Mesin dibekali electronic fuel injection untuk koreksi kinerja mesin pada ketinggian terbang dan perubahan suhu, yang kesemuanya menunjang terbang dalam waktu lama, secara teori Aerostar dapat terbang terus menerus lebih dari 12 jam pada ketinggian 18.000 feet (sekitar 5.486 meter).

Selainn digunakan Indonesia dan militer Israel, Aerostar juga dipakai Rusia, Nigeria, dan Polandia. Soal pengalaman operasi, selain menunjang misi operasi Israel, di tahun 2010 Aerostar juga dilibatkan dalam tugas intai di Afghanistan. Di Asia Tenggara, selain Indonesia, Thailand diketahui juga mengoperasikan Aerostar. Dengan dimensinya yang tidak terlalu besar, Aerostar juga mudah dibongkar pasang untuk menunjang mobilitas pengangkutan melalui truk, pesawat dan helikopter. (Gilang Perdana)

Spesifikasi Aerostar
– Manufaktur: Aeronautics Defense Systems
– Panjang: 4,5 meter
– Lebar: 6,5 meter
– Tinggi: 1,2 meter
– Berat: 210 kg
– Kecepatan maksimum: 203 km/jam
– Kecepatan jelajah: 114 km/jam
– Kecepatan menanjak: 304 meter/menit
– Ketinggian terbang: 5.846 meter
– Mesin: 1x Zanzottera 498i two-stroke boxer
– Jarak jangkau: 200 km
– Max payload: 50 kg

16 Comments